h1

The Gamer Boy

Jarum jam yang terus berputar tak menyadarkanku kalau waktu berlalu begitu cepat. Kini tes sedang berlangsung, di hari jum’at. Seluruh siswa kelas satu mengenakan baju pramuka pada saat itu. Tes itu hanya mengenai dua mata pelajaran bahasa inggris dan matematika. Aku merasa kesulitan pada tes itu, apalagi soal-soal matematika yang tak pernah kusentuh sebelumnya kini menghampiriku. Namun, keinginanku yang kuat untuk meninggalkan kelasku itu, membuatku terus menjawab pertanyaan dalam tes itu.

Hari senin pun tiba dan syukurlah namaku termasuk ke dalam orang-orang yang lulus. Semuanya berjumlah 40 orang, tak kusangka ternyata di antara mereka yang lulus ada yang masih ingin tetap di kelasnya. Ntah mereka tidak ingin kelas berbahasa inggris atau pengaruh teman, aku tidak tahu. Tapi para guru dengan cepat mengganti murid-murid yang ingin keluar dan akhirnya kami lengkap kembali menjadi 40 orang. Aku duduk dengan tenang di depan meja dengan teman SDku M. Qadri Ramadhan, badannya yang besar tidak pernah mengecil sejak SD. Selain Qadri, teman SDku yang lulus ada seorang lagi, yaitu M. Fabbhi Riendi namanya. Ia hitam namun muka sehalus sifatnya, rambutnya ia tata sesuka hatinya. Tapi aku juga tidak menyangka Arlin juga lulus dalam tes itu. Selain jago basket, ternyata ia juga pintar dalam pelajaran.

Fabbhi duduk di meja yang bersebrangan denganku. Ia duduk bersama Fandry Indrayadi, badannya pendek dan ia sangat suka bercerita tentang game begitu pertama kali kami saling kenal. Aku merasa beruntung ada teman yang bisa diajak berbicara tentang game yang juga aku suka. Namun, aku merasa nilaiku akan kacau jika sebangku dengannya, makanya aku lebih memilih duduk dengan Qadri.

Hari itu aku pertama kali aku memiliki komputer di rumahku. Namun, sebelum aku banyak mencicipi teknologi itu, aku diajak Fandry untuk pergi ke warnet (warung internet) di dekat rumahnya. Tanpa tahu apa itu booting, browsing, yahoo, google, surfing, dan sebagainya, aku dibantunya untuk register sehingga kini aku memiliki ID dalam game Gunbound. Nama yang kupilih adalah “rifatila” nama yang telah kubentuk sejak SD dan sejak itulah aku mulai mem-publish nama itu ke seluruh Indonesia, meskipun tidak sampai seluruh warga RI yang berjumlah lebih dari 200juta mengetahuinya. Sebenarnya aku ingin membuat nama rifatila itu dengan huruf kapital di awal, namun, “Enggak semua komputer dalam warnet itu tombol capslock atau shiftnya itu bagus,” saran Fandry.

Pertama mulai dari aku, lalu Andam Purnama Sari Sultan (Andam) yang mau pulang satu angkot dengan Fandry, lalu Yuri Handayani (Yuri), Ridho Kurnia Indra (Ridho), Rifqi Sudrajat (Eki), Kyagus Fajar Waliandre (Kyagus), dan Arlin, sudah tujuh orang yang berhasil ia ajak ke warnet untuk main Gunbound. Perlahan-lahan kami mulai ketagihan dengan Gunbound, kami memainkan berhari-berhari, berminggu-minggu, pulang sekolah kami ingin ke sana. Bahkan di sekolah kami sendiri berkumpul, memutar kursi, menghadap satu meja, hanya untuk membahas Gunbound. Pengaruh dari game yang Fandry promosikan terlalu mempengaruhi kehidupan kami di SMP ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.